Parameter Yang Digunakan Dalam Memilih Fuel

Parameter dalam memilih fuel sangat berpengaruh pada performa engine maupun lifetime (umur pakai) engine. Karena jika pemilihan jenis fuel tidak tepat, maka tenaga yang dihasilkan engine pun menjadi berkurang. Dan juga komponen-komponen di dalam engine pun menjadi cepat aus, dikarenakan efek dari hasil pembakaran fuel yg kurang bagus.

Berikut ini parameter-parameter yang digunakan dalam memilih fuel yang bagus untuk engine anda :

1. VISCOSITY dan DENSITY

Viscosity dan density secara langsung dikaitkan dengan performance engine, emission dan umur engine. Viscosity dan density rendah mengurangi output power, karena fuel juga harus berfungsi sebagai pelumas terhadap komponen komponen fuel system. Jika kinematic viscosity lebih rendah daripada 1,4cSt akan mempercepat keausakan (scuffing dan seizure) pada injection pump, injector, dll.

Interval viscosity dan density yang dianjurkan adalah:
Viscosity : 1,5cST — 4,5 cSt pada 40°C
Density : 810 — 860 kg/m3 pada 15°C

2. DESTILATION (PENYULINGAN)

Boilling range (tingkatan didih) adalah suatu sifat yang penting yang menentukan kualitas fuel. Penentuan dari boiling range ditentukan dengan penggunaan ASTM Test Method D86 atau D2887 (Gas Chromotography Test Method). Meskipun banyak spesifikasi berisi hanya sebagian hasil-hasil distilasi (contoh temperatur distilasi pada 90% Recovered), ini tidak cukup untuk menentukan kualitas dan kecocokan dari fuel untuk penggunaan pada engine diesel.

Hasil fuel-fuel yang dicampur dengan unsur-unsur yang mempunyai titik didih tinggi dapat mempengaruh pembakaran. Hanya fuel-fuel dengan minimum 99% perolehan dengan destilasi yang harus digunakan.

3. FINAL BOILING POINT

Fuel dapat terbakar didalam suatu engine hanya setelah diuapkan secara sempurna. Temperatur dimana fuel teruapkan secara sempurna disebut sebagai “End Point Temperature” pada ASTM D86 Distillation Test Method. Temperatur titik didih dari fuel harus cukup rendah untuk mendapatkan penguapan sempurna pada temperatur ruang bakar.

Temperatur ruang bakar tergantung pada temperatur ambient, putaran engine, dan beban. Penguapan yang kurang baik lebih banyak terjadi selama operasi musim dingin, idling yang terlalu lama dan/atau beban ringan. Dengan demikian, engine yang beroperasi dengan kondisi-kondisi ini harus menggunakan fuel dengan temperature “distillation end point” yang lebih rendah.

Baca Juga :  Bisakah Air Ledeng Dipakai Sebagai Coolant Radiator?

4. KANDUNGAN SULFUR

Parameter Kandungan sulfur didalam fuel sangat mempengaruhi keausan engine dan emissi exhaust gas. Sulfur teroksidasi (bereaksi dengan oxygen) ketika terjadi proses pembakaran membentuk sulfur dioksida (SO2), dan sebagian lebih lanjut teroksidasi menjadi sulfur trioksida (SO3).

Reaksi (1)
S + O2 ~ SO2

Reaksi (2)
2SO2 + O2 ~ 2SO3

Reaksi ini dipengaruhi beberapa factor seperti temperatur pembakaran, temperature exhaust gas, luas penampang partikel, kelembaban relatif, dan
air-fuel ratio. SO2 berubah ke SO3 didalam ruang bakar engine ketika temperatur gas turun tiba-tiba pada saat langkah ekspansi. Maka, jika pembakaran didalam ruang bakar tidak merata (uniform), reaksi ini mudah terjadi. SO3 yang dihasilkan kemudian bereaksi dengan uap air (H2O) hasil pembakaran dan membentuk asam sulfat (H2SO4).

Reaksi (3)
SO3 + H2O ~ H2SO4

Disamping itu, sejumlah kecil SO3 didalam gas pembakaran akan mempengaruhi dan menaikan titik embun (dew point) dari uap air (uap air berkondensasi biarpun pada temperatur tinggi). Uap air yang berkondensasi tadi akan bereaksi dengan gas SO3 menjadi H2SO4, dan hasilnya terjadi keausan korosi pada piston dan liner.

Keausan korosi juga terjadi karena adanya soot yang ditimbulkan karena pembakaran (atom carbon bebas) yang menyerap asam sulfat dan kemudian menempel pada piston groove atau dinding didalam cylinder liner.

5. POUR POINT (TITIK TUANG)

Jika pour point tinggi dan temperatur turun, paraffin didalam fuel memisah secara mudah. Bila kristal-kristal dari endapan paraffin mencapai beberapa percent, aliran minyak menjadi sangat rendah dan paraffin membuntukan bagian dalam system bahan bakar.

Jika temperatur saat dimana kristal paraffin memisah lebih tinggi dari pada temperatur pada saat dimana engine bisa di-start, kristal-kristal paraffin sudah terpisahkan ketika engine di-start. Hal ini akan menahan injeksi fuel yang tepat, dan sebagai akibatnya, engine susah dihidupkan, atau jika hidup, kecepatan putar (rpm) tidak bisa naik, dan engine akan segera berhenti.

Baca Juga :  Sistem Kontrol Transmisi, Jenis Dan Cara Kerjanya

Sehingga, untuk engine-engine putaran tinggi sangat diperlukan beberapa alat pemanas fuel. Untuk daerah dingin, dianjurkan menggunakan minyak diesel khusus cuaca dingin yang mengandung kadar paraffin rendah, dan titik didih yang jauh lebih rendah.

6. KANDUNGAN KARBON RESIDU (RESIDUAL CARBON CONTENT)

Kandungan residu carbon secara basic tidak termasuk didalam minyak diesel light (residu carbon terkandung didalam heavy oil). Sebagai suatu ukuran kecenderungan untuk deposit carbon dari pembakaran, fuel dikabutkan dan dibakar dibawah kondisi tertentu untuk menghasilkan carbon, dan kandungan residu carbon digunakan untuk menunjukan hasil test.

7. KANDUNGAN ABU (ASH CONTENT)

Parameter Ash didalam fuel secara umum terdiri dari tiga macam: partikel-partikel padat, larutan garam anorganik, dan campuran oil-larutan organic. Kandungan ash didalam fuel (light) sangat kecil. Didalam heavy oil, kandungan ash lebih tinggi dari pada light diesel oil, tetapi biarpun demikian, tingkat rata-rata sekitar 0.02 – 0.03 %.

Jika kandungan ash meningkat, hal ini disebabkan terutama karena karat (rust), pasir, atau lumpur yang berasal dari luar.

8. KANDUNGAN AIR (WATER CONTENT)

Air secara basic bukan komponen dari fuel, tetapi jika masuk kedalam fuel sebagai embun didalam udara atau melalui keteledoran dalam menangani fuel. Air didalam fuel menyebabkan rusaknya pelumasan pada bagian-bagian yang sliding dari system fuel, pengkaratan pada bagian-bagian dari metal, dan fuel filter akan tersumbat lebih cepat, sehingga kandungan air harus serendah mungkin.

9. CETANE NUMBER (CETANE INDEX)

Cetane number adalah suatu nilai yang digunakan untuk menunjukan kemampuan penyalaan dari fuel, dan suatu index yang penting pengaruhnya terhadap kemudahan untuk menghidupkan engine dan pembakaran (output) pada engine diesel putaran tinggi. Khususnya didaerah dingin, suatu nilai cetane tinggi diperiukan untuk memudahkan starting, warming up, dan mengurangi timbulnya gas buang warna putih (white smoke).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *