Membandingkan Diri Dengan Orang Lain, Perlu Atau Tidak?

Boleh tidak, membandingkan diri dengan orang lain? Menurut saya; tergantung.

Jika tujuannya untuk belajar dari kesuksesan orang lain, it’s okay.

Jika tujuannya untuk memotivasi diri, it’s still okay.

Tapi jika tujuannya untuk meniru orang lain sampai rela melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan, it’s not okay.

Jika dilakukan terlalu sering sampai lupa mengurus diri sendiri, it’s not okay.

Jika dilakukan sampai terobsesi pada orang lain, apalagi jika sampai rela melakukan apa saja untuk menjatuhkan orang tersebut, it’s definitely not okay.

Memang betul ada alasan kenapa orang-orang tertentu bisa lebih cepat melesat kariernya. Pastilah ada hal-hal yang mereka lakukan lebih baik daripada orang lain pada umumnya. Tapi jika kita sudah berusaha maksimal dan masih belum bisa sukses sama cepatnya dengan mereka. saya juga yakin selalu ada alasan di balik keterlambatan itu.

Setelah berusaha maksimal dan masih belum mendapatkan apa yang kita inginkan, pada titik itulah kita baru bisa bilang. “Setiap orang punya timeline-nya masing.”

Dengan kata lain: pasrah dengan nasib tanpa berusaha untuk mengubahnya dengan dalih “setiap orang punya timeline masing-masing”, it’s totally not okay. Tidak mau membandingkan diri dengan orang lain tetap bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.

Bagaimana jika kebetulan kita bekerja dengan atasan yang tidak kompeten?

Pilihannya cuma dua: terima dan tetap lakukan yang terbaik, atau tinggalkan untuk kesempatan yang lebih baik.

Mengubah atasan bagaimanapun jauh lebih sulit dari mengubah anak buah. Dan memang benar juga bahwa a good boss itu lebih penting daripada a good company.

Tapi begini… jika perusahaan itu masih menawarkan masa depan cerah untuk kita. masih dapat memberikan banyak pengalaman baru yang belum tentu ada di tempat lain. atau masih dapat mempertajam keahlian kita, kenapa harus resign?. Meninggalkan good opportunity hanya karena bad boss itu bukan merugikan si bos melainkan merugikan diri kita sendiri.

Baca Juga :  6 Realita Sadis Dalam Dunia Karir Dan Pekerjaan

Lalu bagaimana caranya mengatasi bos yang tidak kompeten itu? Bantulah dia agar jadi lebih kompeten. Jika ada yang tidak dia pahami, ajarkan bagaimana cara melakukannya. Jika ada masukan, sampaikan baik-baik.

Saat dia melihat kita banyak berjasa untuk dia. Pada saat itulah dia akan menggunakan power dia sebagai bos untuk mendongkrak karier kita atau untuk memberikan rewards berupa bonus, ESOP, dan fasilitas kantor lainnya.

Jika kita sudah berusaha maksimal melakukan semua itu dan karier kita masih saja stuck karena perkara bad boss, barulah kita bisa mempertimbangkan untuk resign.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *