Bagaimana Cara Menghitung MTTR

menghitung mttr

MTTR adalah rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan problem breakdown atau minor stop yang terjadi. Bila system produksi yang ada di plant sudah automasis menghitung OEE (Overall Equipment Effectiveness), maka MTTR ini juga bisa otomatis digenerate dari data OEE. Artinya, bila kita punya data OEE, kita bisa generate data MTTR dan MTBF (Mean Time Between Failure).

Cara menghitung MTTR adalah sebagai berikut:

MTTR =  Total Waktu Breakdown
                                    Frekuensi Breakdown

MTTR merupakan KPI yang penting bagi team maintenance. Dengan MTTR ini, kita bisa tahu seberapa lama waktu yang dibutuhkan oleh team (produksi dan maintenance) untuk melakukan perbaikan. Semua stop/perbaikan harus dihitung, meskipun itu hanya reset alarm. Beda misalnya kalau change over atau setup change. MTTR ini biasanya dihitung dalam satuan menit. Tracking MTTR perbulan sangatlah penting, ini akan memberikan pemahaman seberapa cepat kita bisa menyelesaikan masalah downtime dilapangan.

Cara Menurunkan MTTR

Ada beberapa cara untuk menurunkan MTTR. Dalam PM pillar, step-step yang ada selain bertujuan untuk improve OEE juga untuk menurunkan MTTR. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Analisa breakdown yang terjadi setiap bulan fokus terhadap area/proses yang menimbulkan breakdown terbesar/tersering. Buat team untuk untuk mengetahui dan menyelesaikan masalah ini.
  2. Setiap breakdown, biasanya membutuhkan tools, dsb. Coba analisa aktivitas ini. Bila membutuhkan tools yang tidak standard, tools tersebut bisa ditempatkan di dekat area mesin yang membutuhkan tools tersebut. Hal yang sangat penting juga adalah standarisasi tool team maintenance. Tools ini akan selalu dibawa team maintenance bila mereka ke lapangan untuk trouble shooting. Audit kelengkapan tools ini harus dilakukan terus menerus agar team maintenance bisa disiplin dalam menjaga dan merawat tools pribadi mereka. Sering kali mencari tools yang tepat, membutuhkan waktu cukup lama. Hal ini harus dihindari.
  3. Bilamana dibutuhkan spare part, spare part yang hendak diambil harus bisa dengan cepat ditemukan. Max. Waktu pengambilan adalah 5 menit. Bila lebih dari 5 menit berarti 5S di logistic store perlu diimprove.
  4. Operator juga sangat berperan ketika ada downtime dilapangan. Operator setidaknya harus bisa mengidentifikasi function failure (kegagalan fungsi) yang terjadi, dan bila membutuhkan maintenance, bisa segera menjelaskan problem tersebut. Bila bisa diselesaikan operator sendiri (autonomous maintenance), maka tools yang dibutuhkan operator haruslah tersedia di dekat mesin. Dibutuhkan disiplin untuk menjaga tools ini tetap dalam kondisi baik dan terawat.
  5. Satu hal yang penting juga adalah skill dan knowledge team yang ada di shopfloor. Biasanya ini akan jadi kendala bila belum punya skill team maintenance tidak sama (setidaknya hampir sama).
Baca Juga :  Process Excellence Metodologi Six Sigma

Bila ini sudah ada dishopfloor dan ditambah dengan disiplin dari setiap orang, pasti breakdown yang terjadi bisa dihindari atau bisa diselesaikan dengan cepat. Semoga bermanfaat.

sumber : kaizenrms.wordpress.com