6 Tips Menghindarkan Diri Menjadi Tukang Komplain

jangan jadi tukang komplain

Apakah anda pernah menjadi tukang komplain?. Misalnya saja, Anda merasa ada yang kurang pada uang klaim perjalanan dinas Anda? Jangan ragu menanyakannya pada departemen yang mengurusnya.

Jangan mengatasnamakan kasih dan cinta perdamaian, Anda pasrah dan diam saja, meskipun merasa ada yang salah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan komplain, apalagi jika komplain kita sampaikan dengan baik-baik. Namun komplain menjadi hal yang salah ketika kita menjadikannya suatu hobby, kita suka melakukan komplain, kita senang jika tetangga sebelah kita melakukan kesalahan.

Hati-hati ya, terkadang tanpa sadar kita melakukan hal itu. Seperti rasa gatal yang tidak enak jika tidak di garuk, terkadang ada dorongan dalam diri kita yang membuat kita tanpa sadar menjadi tukang komplain.

Ingat: Kita boleh komplain tapi tidak boleh jadi tukang komplain.

Nah, untuk menghindarkan diri kita dari menjadi tukang komplain, mari kita simak tips-tips berikut ini:

Jangan Berpatokan Pada Selera Pribadi

1. Pastikan kita tahu mana yang ‘Must to have’ dan mana yang ‘Nice to have’

Kita harus memiliki kematangan untuk membedakan. Jangan buat semua hal ‘Must to have’ sesuai dengan selera dan keinginan kita. Jangan juga terpatok dengan kebiasaan dan segala sesuatu yang lebih enak, yang kita pernah dapat dahulu.

Misalnya : Dulu setiap tahun perusahaan Anda pasti melakukan Family Gathering, jalan-jalan bersama keluarga ke tempat rekreasi yang seluruh kegiatannya dibiayai oleh perusahaan. Namun sejak pergantian ke management yang baru, acara jalan-jalan itu sudah tidak ada lagi.

Jangan komplain mengenai hal ini. Apalagi dengan membandingkan Management Baru dengan Management Lama.

Ketika Anda melakukannya, Anda sedang memperlihatkan ketidakmatangan diri Anda untuk membedakan mana yang memang seharusnya Anda terima dan mana yang sebenarnya Anda dapatkan berdasarkan kebijakan management sebelumnya.

Baca Juga :  Perbanyak Koneksi Anda, Maka Rejeki Akan Datang

2. Pastikan Anda komplain ke orang/pihak yang tepat

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah kita mengeluh ke pihak yang salah. Anda merasa tidak puas dengan kepemimpinan atasan Anda, lalu Anda menceritakannya ke rekan di departemen yang lain. Lantas cerita itu menyebar, dan sampai ke telinga atasan Anda. Anda bisa tebak apa yang terjadi selanjutnya? Bukannya hubungan semakin baik, hubungan Anda malah menjadi semakin buruk.

Kesalahan lainnya adalah curhat tentang pekerjaan di media sosial. Iya, betul, Anda marah, Anda kecewa, dan Anda merasa membutuhkan wadah untuk mencurahkan kekesalan Anda. Tapi percayalah, Media sosial bukanlah tempatnya. Di Media Sosial, seringkali kita tidak bisa mengontrol siapa saja yang akhirnya melihat dan membaca status kita. Meskipun Anda sudah membatasi dengan hanya berteman dengan orang-orang pilihan Anda, namun siapa yang bisa menjamin tidak ada di antara mereka yang meng capture curhatan Anda dan menginformasikannya ke pihak yang Anda tidak inginkan?

Lebih baik Anda berbicara langsung secara terbuka dengan orang/pihak terkait. Terbuka bukan berarti terbuka di hadapan semua orang ya, tapi ambillah waktu untuk berbicara secara khusus, terbuka menyampaikan keluhan Anda, dan coba dengar apa yang menjadi penjelasan atau jawaban dari mereka.

Jangan Asal Komplain

3. Pastikan komplain Anda berdasarkan fakta, bukan perasaan atau gosip

Sebelum komplain, pastikan Anda tahu dengan jelas kebenaran akan hal yang Anda komplain. Jangan karena mendengar dari teman-teman Anda, “Gaji kita di potong bulan ini” Anda langsung komplain ke HRD, padahal Anda sendiri belum check berapa rupiah yang masuk ke dalam rekening Anda. Dan siapa tahu teman-teman Anda memang dipotong karena mereka punya pinjaman ke perusahaan atau tunggakan uang event perusahaan yang belum mereka kembalikan?

Baca Juga :  Menghitung Kapasitas Produksi Bulldozer

4. Pastikan Anda tenang dan tidak terbawa emosi

Ini tidak mudah, tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Ketika Anda menyampaikan komplain, pastikan Anda komplain dengan kepala dingin.

Jangan berpikir semakin Anda menunjukkan kemarahan Anda, semakin Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, belum tentu. Terkadang kemarahan cuma membawa Anda menjadi tidak dapat mengendalikan perkataan Anda, dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya Anda ucapkan. Anda mungkin memang akan mendapatkan apa yang Anda inginkan pada saat itu, tapi Anda akan mendapat kesulitan untuk mendapatkan bantuan sukarela mereka pada kesempatan-kesempatan yang lain.

Temukan Masalahnya

5. Tanyakan apa masalahnya dan apa yang bisa Anda bantu

Jangan cuma komplain, tapi bantu mikir
Misalnya: Anda komplain karena departemen lain selalu terlambat mengirimkan data kepada departemen Anda.

Tanyakan: Apa masalahnya? apa yang membuat mereka selalu terlambat?

Lantas misalnya muncullah jawaban, bahwa keterlambatan mereka dikarenakan mereka belum familiar dengan sistem komputer yang digunakan.

Tawarkanlah solusi, misalnya bekerjasama dengan departemen IT melakukan user training.

Ada banyak keuntungan yang bisa Anda dapatkan, jika Anda berhenti hanya memikirkan departemen dan pekerjaan Anda sendiri, dan mulai memperhatikan apa yang bisa Anda usulkan demi perbaikan kualitas kerja bersama.

6. Pastikan Anda tidak menjadi tukang komplain pekerjaan anak buah Anda sendiri

Kinerja anggota tim Anda, mencerminkan kemampuan leadership Anda.

Anda bisa komplain “Anak buah gw gak bisa kerja”, tapi bukankah itu hanya menunjukkan ketidakmampuan Anda untuk mengajar dia bekerja?

“Anak buah gw gak bisa diatur!”, nah yang ini menunjukkan ketidakmampuan Anda untuk mengatur.

“Tapi bu, anak buah saya sudah given. Mereka sudah ada di departemen Saya sebelum Saya masuk” Tukas seorang kandidat interview kepada saya beberapa bulan yang lalu.

Baca Juga :  5 Kiat Menjadi Seorang Manager Di Usia Muda

Saya tersenyum. “Ya pak, tapi justru di saat seperti inilah kemampuan leadership bapak jadi benar-benar dapat dibuktikan. Jika bapak hanya mau dan hanya bisa memimpin orang-orang yang dipilih sendiri oleh bapak, bapak bukanlah seorang pemimpin, hanya seorang manager biasa. Tapi jika bapak bisa memimpin orang yang sebelumnya tidak mengenal bapak, tidak menyukai bapak, dan punya pandangan yang berbeda dengan bapak, nah itu barulah terbukti: bapak memang seorang yang punya kemampuan kepemimpinan yang kuat.”

 

sumber : disarikan dari artikel Milka Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *