3 Tips Jitu Agar Dapat Bertahan Dalam Dunia Kerja

Sobat pembaca, kali ini saya akan berbagi sedikit tips agar dapat bertahan dalam dunia kerja. Perusahaan merupakan sebuah institusi yang kompleks. Di dalamnya terdiri dari puluhan bahkan ribuan manusia dengan berbagai macam karakter. Dan tentunya masing-masing individu tersebut memiliki keinginan, tujuan dan visi yang berbeda-beda.

Ketika kita masuk di dalamnya, maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya, termasuk mengikuti tujuan visi dan misi dalam sebuah perusahaan tersebut. Nah, bagaimanakah cara kita agar adapat mengikuti perkembangan dunia kerja?

Tips 1 : Manfaatkan Media Sosial Untuk Memperbanyak Relasi

Tips kerja pertama adalah manfaatkan media sosial yang ada. Aktif di LinkedIn gak akan menjamin kita cepet dapet kerja. Namun semakin banyak audience yang menyukai hal-hal nyata & konstruktif yang kita lakukan atau bagikan pada publik, maka Social Value & Influence kita akan semakin tinggi; dan itu bisa kita gunakan sebagai daya ungkit (leverage) & nilai jual (bargaining power) bagi peningkatan karir aktual kita di kantor atau bisnis.

Bukan berarti media sosial lainnya jelek. Namun kita dapat memandang mereka sebagai jenis pisau yang berbeda untuk keperluan yang juga berbeda-beda.

Koki terbaik sangat memahami apa perbedaan dari setiap jenis & bentuk pisau di tangannya, dan kapan masing-masing dari pisau itu harus digunakan.

Kita bisa saja aktif di Facebook. Instagram, Twitter, atau LinkedIn. Satu hal terpenting adalah kita paham benar apa perbedaan di antara mereka, dan hasil seperti apakah yang kita harapkan bisa berbuah dari keaktifan kita di masing-masing media sosial tersebut.

Tips 2 : Jangan Sering Mengeluh Atau Bahkan Mendikte Atasan

Tips kerja kedua adalah jangan sering mengeluh. Kita gak akan pernah bisa mendikte Perusahaan, Pemegang Saham, Direksi, Top Management, HR, dan atasan kita. Kultur perusahaan & budaya organisasi adalah bersifat Top-Down, bukan sebaliknya.

Tidak suka dengan atasan kita? Tidak suka dengan atasannya atasan kita? Tidak cocok dengan gaya kepemimpinan CEO kita? Sudah mencoba ke semua pihak untuk membicarakannya baik-baik dan mencari solusi, tapi gagal? Sudah mencoba bicara ke Top Management tapi nihil atau tidak dihiraukan?

Baca Juga :  6 Tips Menghindarkan Diri Menjadi Tukang Komplain

Lalu, apa lagi yang bisa diharapkan, selain resign?

Jika karir dan mental kita sudah jelas terhambat & sangat menderita di situ tanpa solusi, namun proses resign sedemikian sulitnya untuk kita putuskan & lakukan; biasanya itu terjadi karena kita kurang pergaulan, kurang kompetensi, atau kebanyakan cicilan bulanan.

Jika kondisinya sudah jelas seperti ini, tidak perlu repot-repot mencari nasihat karir dari siapa pun, karena bahkan nasihat karir paling keren dari Career Coach paling mandraguna sekalipun, akan mentok ketika menghadapi kekuatiran berlebihan kita dalam sebuah pengambilan keputusan karir.

Satu hal terpenting dalam proses resign adalah selain melakukannya (sebisa mungkin) baik-baik tanpa “membakar jembatan” dengan kantor lama kita, juga (sebisa mungkin) lakukanlah setelah kita memiliki tambatan karir yang kokoh di kantor yang baru. Ini terutama penting kita perhatikan ketika kita sudah berkeluarga atau memiliki tanggungjawab finansial yang besar & berat.

Tips 3 : Maksimalkan Umur Anda Dengan Beragam Kompetensi Kerja

Dalam beberapa tahun ke depan, ambang batas umur maksimal penerimaan seorang karyawan akan terus bergerak maju ke angka yang lebih muda, dan ini bukanlah salah siapa-siapa.

Di dekade lalu, perusahaan masih mau menerima tingkatan Manager di angka umur maksimal 40 tahun. Saat ini, rerata angka itu sudah bergerak maju ke angka maksimal 35 tahun.

Pahitnya adalah begini. Di tingkat Manager, rerata angka umur maksimal sudah bergeser ke kepala 3. Sementara itu lowongan untuk tingkatan di atas Manager (misalnya GM atau Direksi), biasanya gak mempermasalahkan umur, tapi lowongan-lowongannya hanya beredar di kalangan tertentu, atau dari referensi solid satu koneksi ke koneksi lainnya.

Kalau pun ada lowongan tingkatan GM atau Direksi yang tersebar di ranah publik, memperebutkannya pun bukan perkara mudah, kan?

Dekade selanjutnya, bukannya mustahil perusahaan akan menikmati berlimpahnya pencari kerja & peniti karir yang cemerlang & benar-benar layak menjadi Manager, di umur 30an tahun.

Melihat generasi muda berumur kepala 3, sudah menempati jabatan-jabatan tinggi & strategis, di berbagai Startup dengan dukungan permodalan yang kuat; sudah menjadi new normal.

Baca Juga :  Tips Jitu Menjadi "Most Wanted Jobseeker"

Dengan semakin majunya teknologi & kecerdasan buatan, akan semakin banyak pekerjaan non-kualitatif & non-strategis yang dapat didelegasikan ke sistem, aplikasi, robot, otomatisasi, Artificial Intelligence, atau Machine Learning.

Sehingga akan semakin banyak pekerjaan kualitatif & strategis yang dapat diemban oleh para peniti karir berumur muda.

Rekruter tidak memajang angka umur maksimal di pengumuman lowongan kerja, bukan berarti urusan umur maksimal ini akan selesai, simply karena jika para pengusaha bisa merekrut pekerja yang lebih muda & belum berkeluarga, maka pengusaha bisa menghemat banyak pengeluaran.

Komposisi suatu organisasi perusahaan akan relatif berlaku sama dari waktu ke waktu.  Yaitu kurang-lebih 5%-20% di pucuk pimpinan dari golongan umur 30 tahun ke atas, dan sisanya, 80%-95%, adalah angkatan muda. Malah sekarang semakin banyak organisasi perusahaan Startup yang menerapkan kebijakan “100% angkatan muda”.

Satu kabar gembiranya adalah: perihal umur maksimal ini biasanya tidak menjadi masalah, ketika seorang peniti karir memiliki:

– Keahlian teknis khusus yang langka, yang dapat menyelesaikan masalah suatu organisasi secara efektif & efisien.
– Karakteristik atau kepribadian tertentu yang spesifik dibutuhkan pada suatu kondisi tertentu.
– Kombinasi lebih dari dua keahlian tertentu yang gabungan kesemuanya pas sekali dibutuhkan oleh suatu industri dalam jangka waktu tertentu.
– Kedekatan atau restu khusus dari pemegang kekuasaan tertinggi di organisasi tersebut.
– Akses langsung & solid kepada entitas, organisasi, atau jaringan tertentu yang diyakini dapat menyelesaikan masalah atau memunculkan suatu keuntungan tertentu.

Para peniti karir yang “sudah bersantan”, gak perlu ngamuk ke saya ya… Saya menulis realitas ini dalam kondisi saya udah berumur 40 tahun. Udah beruban, pernah lama sekali mencari kerja, dan udah kenyang dengan penolakan para rekruter.

Jadi, saya gak dalam posisi yang masih perlu diajari lagi perihal makna peribahasa “makin tua makin bersantan”, karena di dunia karir & ketenagakerjaan, peribahasa itu terbukti semakin kehilangan maknanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *